Siapa sih yang ingin ditolak cintanya, aku rasa semua lelaki yang
pernah merasakan jatuh cinta pasti berharap cintanya diterima. Tetapi
aku cukup beruntung ketika aku jatuh cinta dan akhirnya tertolak. Aku
sebenarnya lelaki yang sukar sekali jatuh cinta, mungkin karena saat
itu aku belum menemukan seseorang yang benar-benar aku cintai dengan
tulus, bukan karena nafsu atau iri saat melihat teman-teman sebayaku
telah memiliki kekasih. Aku lebih senang menunggu, walau sebenarnya saat
itu banyak perempuan yang mencoba mendekati aku
Karena hal itu, aku sempat diisukan sebagai lelaki yang tak normal
karena tak pernah jatuh cinta. Bahkan sampai aku menginjak kelas tiga
SMU, aku masih senang sendiri, merajut keceriaan tanpa kehadiran sang
pujaan hati, memotong kesedihan dengan kesendirian dan membiarkan air
mata ini jatuh dari kelopaknya, setetes demi setetes sampai akhirnya
jiwa ini kembali menemukan harinya.
Tetapi terus terang, aku akhirnya jatuh cinta untuk yang pertama
kalinya, walau saat itu sebenarnya aku tak pernah menyadari perasaan
itu. berawal dari ketidak sengajaan saat aku mendengarkan percakapan
diruangan kepala sekolah, aku melihat Pesek (bukan nama sebenarnya) teman
sekelasku yang seorang juara kelas, sedang bernegosiasi untuk meminta
keringanan biaya untuk ujian akhir. Dan aku tak pernah menyangka, jika
Pesek si juara kelas itu adalah hanya anak seorang pedagang bakso keliling
Entah mengapa saat itu aku begitu tersentuh. Setiap ada waktu, dikelas
atau dimanapun ada kesempatan,aku mencoba untuk mengajak bicara sang
bintang kelas itu. Namun sejauh itu, tak ada respon sedikit pun darinya.
Semakin lama aku semakin faham, untuk seorang Pesek, perhatian dari
seorang lelaki sepertiku tidaklah begitu penting baginya. Karena
begitu banyak beban keluarga yang ada di pundaknya.
Setiap hari berganti, setiap itu pula rasa simpatikku terhadapnya
semakin bertambah. Tetapi Pesek tetaplah seperti yang aku kenal
sebelumnya Tidak ada kegundahan sedikitpun yang terlihat diraut
wajahnya. Padahal aku tahu betul, batas akhir pembayaran ujian akhir
sisa dua minggu lagi. Tetapi itulah Pesek, ia tetap bisa belajar dengan
tenang, menjawab pertanyaan dengan tepat, bertanya dengan kritis, dan
berdiskusi dengan bijaksana. Pesek tetap bisa menjadi bintang, bahkan
bukan hanya bintang di kelas, namun juga di hatiku. Dan akupun
memutuskan mengorbankan sebagian uang tabunganku.
Saat itu ketika jam istirahat, nama Pesek di panggil di speaker sekolah
untuk segera ke ruang tata usaha. Disana ia begitu terkejut, ketika
menerima kuitansi pelunasan uang ujian akhir atas namanya. Siapa yang
berbaik hati membayarkannya ? Pesek pun bertanya-tanya akan hal itu. Tidak
ada pesan di kuitansi itu, kecuali sebuah tanda tangan yang dibubuhi
tulisan : “sahabat yang mengagumimu”:
Tak ada yang ingin ditolak cintanya. Begitupun dengan aku, yang kini
mulai menyadari, bahwa hatiku telah tercuri. Dengan perasaanku ini, aku
yakin, bahwa aku tidak mencintai orang yang salah. Aku juga yakin,
cinta murni yang selalu kusimpan rapi hanya untuk diberikan pada Pesek.
Namun, aku bingung bagaimana harus mengekpresikan perasaannya. Aku
hanya bisa mencuri kesempatan ketika jam diskusi, atau sesekali di
perpustakaan.
Siang itu di perpustakaan, aku mengembalikan buku yang sengaja aku
pinjam kemarin pada Pesek. Tanpa perasaan apa-apa, Pesekpun menerima buku
itu. Namun ia dikejutkan pada sebuah kartu yang sengaja kuselipkan
didalamnya, kartu itu berwarna merah jambu, menyebarkan wangi semerbak
aroma bunga, senada dengan puisi yang tertulis didalamnya : “ kenapa
tidak kau letakkan tangan itu, Ketika penat menggelabuimu, Padahal
selalu ada bahu yang menunggu. Letakkanlah.. Tangan itu di bahunya
Bukan hanya untuk berbagi..Tapi karena ia ingin mencintai.. Sahabat
yang mengagumimu…….
Tetapi aku sangat terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba saja berubah
saat ia menyadari siapa yang telah melunasi biaya ujian akhirnya dan
juga menyadari bahwa aku mencintainya. Dan sungguh aku tak percaya jika
ia menolak semuanya, menolak semua bantuanku dan yang lebih menyakitkan
ia menolak rasa sayangku kepadanya, “ Tunggu Sek…!” aku menghapus air
mataku, “ Kenapa… kenapa aku tidak boleh menyayangimu? aku tulus
menyayangimu.. aku hanya menyayangimu Sek, dan tidak memintamu untuk
menjadikanku pacar…”
Dengan perasaan kalut, sang lelaki pun mengungkapkan perasaaannya pada
sebuah tembok toilet di sekolah, tanpa sadar ia torehkan tembok itu
dengan tulisan “ I LOVE U, PESEK” Sepuluh tahun itu berlalu, aku kini
bukanlah lelaki yang lemah seperti dulu. Saat ini aku tengah sukses
mengembangkan usaha, aku juga telah memiliki istri dan seorang buah
hati, hidup berbahagia dan tak kurang suatu apapun.
Disuatu pagi, ada seorang sales yang memaksa bertemuku, tetapi karena
kesibukanku, aku meminta sekretarisku untuk menanganinya. Tetapi anehnya
sales tersebut tetap memaksaku untuk bertemu, karena lama menunggu
akhirnya sales tersebut meninggalkan pesan. Dan aku begitu terkejut
ketika membaca pesannya yang membuka kembali lukaku sepuluh tahun silam
“Untuk seseorang yang pernah menorehkan namaku di tembok toilet SMU
dengan kata-kata “I Love U PESEK”, AKU MOHON MAAF. Karena kini dia sudah
lebih baik dariku, sudah berbenah, bahkan melebihi dari kesempurnaanku
dulu. Setidaknya aku berharap dia sudi memaafkanku, meskipun tanpa harus
berharap dapat merebut hatinya yang sudah layu…, PESEK…Aku menghela
nafas panjang. Kemudian tanpa sadar, pena ditanganku menuntun untuk
menjawab tulisan itu : Terima kasih, karena dulu telah menolak cinta
ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar