Berapa kali Anda menyesal di dalam hidup? Satu kali? Dua kali? Atau
bahkan ada yang menjawabnya sering? Lantas apa yang menyebabkan Anda
seringkali menyesal?
Ah, jawabannya pasti karena gagal atau tak
sesuai dengan harapan Anda, bukan? Tetapi pikirkan kembali, lebih
menyesal mana saat Anda mengalami kegagalan atau Anda tak pernah
mencobanya? Kami berani bertaruh, penyesalan terdalam adalah saat Anda
tak berani mencoba sesuatu...
Aku adalah siswi SMU yang
menurutku biasa-biasa saja, tetapi aku tahu benar bahwa sejak aku duduk
di bangku SMU ini setiap hari selalu ada pria yang berusaha mengambil
hatiku, menyatakan bahwa ia mencintaiku. Awalnya hal itu menyenangkan,
sampai tiba di tahun ke-3 dan semua hal itu berubah menjadi hal yang
menjengkelkan dan membosankan.
Terlebih lagi ada seorang pria
dari kelasku. Ia orang yang paling membosankan menurutku. Sejak tahun
pertama, kami selalu sekelas. Ia memang murid terpandai, tetapi lihat
saja penampilannya. Oh, sama sekali tak rapi. Setidaknya aku masih bisa
menikmati perlakukan pria-pria lain yang manis dan selalu tampil keren.
Tapi yang ini? He is like a disaster to me!
Hingga suatu hari,
menjelang perpisahan. Ia memberanikan diri naik ke panggung di malam
pensi. Hah, apa pula ini? Bila pria lain yang melakukannya mungkin aku
masih bisa tersenyum dan bangga, tetapi si kutu buku ini yang
melakukannya. Oh tidak, tamatlah riwayatku! Kataku dalam hati.
Namun, hari itu juga, hidupku berubah!
Setelah
dipermalukan di depan panggung dan ditertawakan seluruh isi sekolah,
aku menariknya turun dan membawanya ke sebuah ruang kelas yang sepi. Aku
memarahinya habis-habisan dan memprotes semua ulahnya. Rasanya semua
emosiku selama tiga tahun tumpah saat itu juga. Aku tahu kata-kataku tak
enak didengar olehnya, bahkan mungkin teman-teman tak menduga bahwa aku
bisa menjadi sosok yang kasar dan kejam seperti itu. Ia hanya terdiam
di depanku. Memandang dan mencermati setiap kata-kataku hingga akupun
canggung sendiri.
"Lihat apa kamu?"
"Apa sih sebenarnya maumu? Mengapa kamu melakukan hal yang kamu sudah tahu bahwa kamu akan gagal?" tanyaku.
"Aku tahu, aku mungkin tak pantas untukmu. Tetapi setidaknya aku berani mencoba..." katanya.
Aku
terdiam. Terdiam cukup lama untuk menelan dan memahami setiap
kata-katanya. Sebenarnya memang ia yang paling konsisten untuk
menunjukkan rasa sukanya padaku. Tiga tahun. Bukan waktu yang singkat
untuk seseorang bertahan menyatakan perasaan pada orang yang disukainya.
Kebanyakan pria yang menyatakan cintanya padaku telah menemukan kekasih
setelah kutolak. Tak ada yang kekeuh mengejar sekian lama seperti si
kutu buku ini.
Kemudian aku tahu, bahwa ia akan lebih menyesal
menyimpan perasaannya seorang diri dan tak melakukan apapun untuk
menyatakan perasaannya padaku. Ia berpikir, lebih baik ia ditolak
ketimbang harus diam saja. Dan, sebenarnya diam-diam aku cukup kagum
terhadapnya. Ia sudah kutolak berkali-kali, namun ia tetap berusaha.
"Kupikir
ini adalah kesempatan terakhirku. Aku memberikan diriku sebuah tenggat
waktu. Bila toh memang pada akhirnya kau tetap menolakku, aku tak akan
menyesal karena aku telah mencobanya..." katanya lagi.
Dan aku pun memeluknya. Memeluknya erat dan mengatakan "Yes, I do!"
Memang
tak semua usaha selalu diakhiri dengan hal yang manis dan
membahagiakan. Seringkali bahkan diakhiri dengan kekecewaan dan
kepedihan. Tetapi, apalah arti sebuah kecewa dibanding penyesalan seumur
hidup, kawan? SUMBER: Agatha Yunita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar