Minggu, 08 Januari 2012

Jam Tangan Yang Hilang

Di sebuah desa, terdapat sebuah tempat pemotongan kayu. Di sana, para pria bekerja untuk memotong kayu-kayu yang sangat besar menjadi kayu yang lebih kecil dan bisa dijadikan berbagai benda dan aksesoris rumah tangga. Pada hari yang cerah, seorang tukang potong kayu kehilangan jam tangannya. Dia yakin jam tangan itu terjatuh di atas tumpukan serbuk kayu yang menggunung di bagian lantai tempat pemotongan kayu.

Suasana menjadi ramai. Para pekerja yang lain membantu mencari jam tangan itu. Mereka tahu bahwa sang tukang kayu yang kehilangan jam tangan mendapatkan benda tersebut dari putera semata wayangnya yang bekerja di kota. Menghilangkan benda tersebut tentu akan membuat sang putera kecewa karena ayahnya tidak bisa menjaga benda mahal itu dengan baik. Semua orang mencari, tetapi hingga siang, jam tangan itu tidak ditemukan.

Pada saat jam makan siang, para pekerja ke luar untuk mencari makan. Beberapa di antara mereka menghibur pemotong kayu yang kehilangan jam tangannya, tetapi dia tetap murung dan menyesal karena memakai jam tangan itu saat bekerja. Dia tidak berselera menghabiskan makan siangnya, sehingga dia kembali ke dalam tempat pemotongan kayu untuk mencari jam tangan itu sekali lagi.

Tanpa disadari, di dalam tempat pemotongan kayu ada seorang anak laki-laki yang memberikan sebuah jam tangan pada tukang kayu tersebut. Itu adalah jam tangan yang hilang. Sang pemotong kayu tentu senang dan menanyakan pada anak kecil tersebut, bagaimana dia bisa menemukannya sementara para pekerja telah mencari jam tangan tersebut sepanjang pagi dan tidak menemukannya.

Anak kecil itu menjawab, "Saya hanya diam saja saat Anda kehilangan jam tangan itu dan saat orang-orang mencarinya. Saya menunggu hingga kalian semua meninggalkan tempat ini. Dengan begitu saya dapat menemukan jam tangan Anda hanya dengan mendengar suara tik tok tik tok,"Pria itu tersenyum dan berterima kasih pada anak laki-laki yang memang sering membantu para pekerja untuk menumpuk kayu yang telah di potong.

Sahabat rif'an...saat masalah datang, rasa panik seringkali melanda. Tidak jarang kita meminta bantuan dari banyak pihak dan mereka tidak keberatan untuk membantu kita. Hanya saja, seringkali menyelesaikan masalah bersama-sama dan tanpa pemikiran justru tidak menyelesaikan apapun. Kadang, duduk diam terlebih dahulu dan memikirkan pemecahan masalah akan lebih baik daripada 'mengeroyok' masalah tersebut tanpa pemikiran yang matang. Masalah hanya akan terselesaikan dengan baik melalui pemikiran yang tenang.

SUMBER:kapanlagi.com

Izinkan Aku Menciummu Bu

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku 'dipaksa' membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu.

Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu.Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya.Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.

Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguk nya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.

dari milis motivasi

Aku Tahu, Setidaknya Aku Pernah Mencoba...

Berapa kali Anda menyesal di dalam hidup? Satu kali? Dua kali? Atau bahkan ada yang menjawabnya sering? Lantas apa yang menyebabkan Anda seringkali menyesal?

Ah, jawabannya pasti karena gagal atau tak sesuai dengan harapan Anda, bukan? Tetapi pikirkan kembali, lebih menyesal mana saat Anda mengalami kegagalan atau Anda tak pernah mencobanya? Kami berani bertaruh, penyesalan terdalam adalah saat Anda tak berani mencoba sesuatu...

Aku adalah siswi SMU yang menurutku biasa-biasa saja, tetapi aku tahu benar bahwa sejak aku duduk di bangku SMU ini setiap hari selalu ada pria yang berusaha mengambil hatiku, menyatakan bahwa ia mencintaiku. Awalnya hal itu menyenangkan, sampai tiba di tahun ke-3 dan semua hal itu berubah menjadi hal yang menjengkelkan dan membosankan.

Terlebih lagi ada seorang pria dari kelasku. Ia orang yang paling membosankan menurutku. Sejak tahun pertama, kami selalu sekelas. Ia memang murid terpandai, tetapi lihat saja penampilannya. Oh, sama sekali tak rapi. Setidaknya aku masih bisa menikmati perlakukan pria-pria lain yang manis dan selalu tampil keren. Tapi yang ini? He is like a disaster to me!

Hingga suatu hari, menjelang perpisahan. Ia memberanikan diri naik ke panggung di malam pensi. Hah, apa pula ini? Bila pria lain yang melakukannya mungkin aku masih bisa tersenyum dan bangga, tetapi si kutu buku ini yang melakukannya. Oh tidak, tamatlah riwayatku! Kataku dalam hati.

Namun, hari itu juga, hidupku berubah!

Setelah dipermalukan di depan panggung dan ditertawakan seluruh isi sekolah, aku menariknya turun dan membawanya ke sebuah ruang kelas yang sepi. Aku memarahinya habis-habisan dan memprotes semua ulahnya. Rasanya semua emosiku selama tiga tahun tumpah saat itu juga. Aku tahu kata-kataku tak enak didengar olehnya, bahkan mungkin teman-teman tak menduga bahwa aku bisa menjadi sosok yang kasar dan kejam seperti itu. Ia hanya terdiam di depanku. Memandang dan mencermati setiap kata-kataku hingga akupun canggung sendiri.

"Lihat apa kamu?"

"Apa sih sebenarnya maumu? Mengapa kamu melakukan hal yang kamu sudah tahu bahwa kamu akan gagal?" tanyaku.

"Aku tahu, aku mungkin tak pantas untukmu. Tetapi setidaknya aku berani mencoba..." katanya.

Aku terdiam. Terdiam cukup lama untuk menelan dan memahami setiap kata-katanya. Sebenarnya memang ia yang paling konsisten untuk menunjukkan rasa sukanya padaku. Tiga tahun. Bukan waktu yang singkat untuk seseorang bertahan menyatakan perasaan pada orang yang disukainya. Kebanyakan pria yang menyatakan cintanya padaku telah menemukan kekasih setelah kutolak. Tak ada yang kekeuh mengejar sekian lama seperti si kutu buku ini.

Kemudian aku tahu, bahwa ia akan lebih menyesal menyimpan perasaannya seorang diri dan tak melakukan apapun untuk menyatakan perasaannya padaku. Ia berpikir, lebih baik ia ditolak ketimbang harus diam saja. Dan, sebenarnya diam-diam aku cukup kagum terhadapnya. Ia sudah kutolak berkali-kali, namun ia tetap berusaha.

"Kupikir ini adalah kesempatan terakhirku. Aku memberikan diriku sebuah tenggat waktu. Bila toh memang pada akhirnya kau tetap menolakku, aku tak akan menyesal karena aku telah mencobanya..." katanya lagi.

Dan aku pun memeluknya. Memeluknya erat dan mengatakan "Yes, I do!"


Memang tak semua usaha selalu diakhiri dengan hal yang manis dan membahagiakan. Seringkali bahkan diakhiri dengan kekecewaan dan kepedihan. Tetapi, apalah arti sebuah kecewa dibanding penyesalan seumur hidup, kawan? SUMBER: Agatha Yunita

Terima Kasih Telah Menolak Cintaku


Siapa sih yang ingin ditolak cintanya, aku rasa semua lelaki yang pernah merasakan jatuh cinta pasti berharap cintanya diterima. Tetapi aku cukup beruntung ketika aku jatuh cinta dan akhirnya tertolak. Aku sebenarnya lelaki yang sukar sekali jatuh cinta, mungkin karena saat itu aku belum menemukan seseorang yang benar-benar aku cintai dengan tulus, bukan karena nafsu atau iri saat melihat teman-teman sebayaku telah memiliki kekasih. Aku lebih senang menunggu, walau sebenarnya saat itu banyak perempuan yang mencoba mendekati aku Karena hal itu, aku sempat diisukan sebagai lelaki yang tak normal karena tak pernah jatuh cinta. Bahkan sampai aku menginjak kelas tiga SMU, aku masih senang sendiri, merajut keceriaan tanpa kehadiran sang pujaan hati, memotong kesedihan dengan kesendirian dan membiarkan air mata ini jatuh dari kelopaknya, setetes demi setetes sampai akhirnya jiwa ini kembali menemukan harinya. Tetapi terus terang, aku akhirnya jatuh cinta untuk yang pertama kalinya, walau saat itu sebenarnya aku tak pernah menyadari perasaan itu. berawal dari ketidak sengajaan saat aku mendengarkan percakapan diruangan kepala sekolah, aku melihat Pesek (bukan nama sebenarnya) teman sekelasku yang seorang juara kelas, sedang bernegosiasi untuk meminta keringanan biaya untuk ujian akhir. Dan aku tak pernah menyangka, jika Pesek si juara kelas itu adalah hanya anak seorang pedagang bakso keliling Entah mengapa saat itu aku begitu tersentuh. Setiap ada waktu, dikelas atau dimanapun ada kesempatan,aku mencoba untuk mengajak bicara sang bintang kelas itu. Namun sejauh itu, tak ada respon sedikit pun darinya. Semakin lama aku semakin faham, untuk seorang Pesek, perhatian dari seorang lelaki sepertiku tidaklah begitu penting baginya. Karena begitu banyak beban keluarga yang ada di pundaknya. Setiap hari berganti, setiap itu pula rasa simpatikku terhadapnya semakin bertambah. Tetapi Pesek tetaplah seperti yang aku kenal sebelumnya Tidak ada kegundahan sedikitpun yang terlihat diraut wajahnya. Padahal aku tahu betul, batas akhir pembayaran ujian akhir sisa dua minggu lagi. Tetapi itulah Pesek, ia tetap bisa belajar dengan tenang, menjawab pertanyaan dengan tepat, bertanya dengan kritis, dan berdiskusi dengan bijaksana. Pesek tetap bisa menjadi bintang, bahkan bukan hanya bintang di kelas, namun juga di hatiku. Dan akupun memutuskan mengorbankan sebagian uang tabunganku. Saat itu ketika jam istirahat, nama Pesek di panggil di speaker sekolah untuk segera ke ruang tata usaha. Disana ia begitu terkejut, ketika menerima kuitansi pelunasan uang ujian akhir atas namanya. Siapa yang berbaik hati membayarkannya ? Pesek pun bertanya-tanya akan hal itu. Tidak ada pesan di kuitansi itu, kecuali sebuah tanda tangan yang dibubuhi tulisan : “sahabat yang mengagumimu”: Tak ada yang ingin ditolak cintanya. Begitupun dengan aku, yang kini mulai menyadari, bahwa hatiku telah tercuri. Dengan perasaanku ini, aku yakin, bahwa aku tidak mencintai orang yang salah. Aku juga yakin, cinta murni yang selalu kusimpan rapi hanya untuk diberikan pada Pesek. Namun, aku bingung bagaimana harus mengekpresikan perasaannya. Aku hanya bisa mencuri kesempatan ketika jam diskusi, atau sesekali di perpustakaan. Siang itu di perpustakaan, aku mengembalikan buku yang sengaja aku pinjam kemarin pada Pesek. Tanpa perasaan apa-apa, Pesekpun menerima buku itu. Namun ia dikejutkan pada sebuah kartu yang sengaja kuselipkan didalamnya, kartu itu berwarna merah jambu, menyebarkan wangi semerbak aroma bunga, senada dengan puisi yang tertulis didalamnya : “ kenapa tidak kau letakkan tangan itu, Ketika penat menggelabuimu, Padahal selalu ada bahu yang menunggu. Letakkanlah.. Tangan itu di bahunya Bukan hanya untuk berbagi..Tapi karena ia ingin mencintai.. Sahabat yang mengagumimu……. Tetapi aku sangat terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba saja berubah saat ia menyadari siapa yang telah melunasi biaya ujian akhirnya dan juga menyadari bahwa aku mencintainya. Dan sungguh aku tak percaya jika ia menolak semuanya, menolak semua bantuanku dan yang lebih menyakitkan ia menolak rasa sayangku kepadanya, “ Tunggu Sek…!” aku menghapus air mataku, “ Kenapa… kenapa aku tidak boleh menyayangimu? aku tulus menyayangimu.. aku hanya menyayangimu Sek, dan tidak memintamu untuk menjadikanku pacar…” Dengan perasaan kalut, sang lelaki pun mengungkapkan perasaaannya pada sebuah tembok toilet di sekolah, tanpa sadar ia torehkan tembok itu dengan tulisan “ I LOVE U, PESEK” Sepuluh tahun itu berlalu, aku kini bukanlah lelaki yang lemah seperti dulu. Saat ini aku tengah sukses mengembangkan usaha, aku juga telah memiliki istri dan seorang buah hati, hidup berbahagia dan tak kurang suatu apapun. Disuatu pagi, ada seorang sales yang memaksa bertemuku, tetapi karena kesibukanku, aku meminta sekretarisku untuk menanganinya. Tetapi anehnya sales tersebut tetap memaksaku untuk bertemu, karena lama menunggu akhirnya sales tersebut meninggalkan pesan. Dan aku begitu terkejut ketika membaca pesannya yang membuka kembali lukaku sepuluh tahun silam “Untuk seseorang yang pernah menorehkan namaku di tembok toilet SMU dengan kata-kata “I Love U PESEK”, AKU MOHON MAAF. Karena kini dia sudah lebih baik dariku, sudah berbenah, bahkan melebihi dari kesempurnaanku dulu. Setidaknya aku berharap dia sudi memaafkanku, meskipun tanpa harus berharap dapat merebut hatinya yang sudah layu…, PESEK…Aku menghela nafas panjang. Kemudian tanpa sadar, pena ditanganku menuntun untuk menjawab tulisan itu : Terima kasih, karena dulu telah menolak cinta ku.

Sabtu, 07 Januari 2012

Berani Melepaskan


Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan, orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan tapi ada saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang bukan karena orang itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kitamelepaskannya.

* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kebahagiaan kita sangat bergantung pada orang itu.

* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketikakita merasa dia itu ganteng, cantik, teristimewa dibandingkan dgn yang lain.

* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kita takut tidak dapat menemukan yang seperti dia.

* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika begitu banyak saat-saat indah senantiasa terbayang di benak kita.

* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika hati kita berkata "Saya sangat mencintainya".

Ingatlah !! Melepaskan bukanlah akhir dari dunia melainkan awal dari suatu kehidupan baru...

* Kita harus melepaskan seseorang karena kebahagiaan kita tidak tergantung padanya.

* Kita harus melepaskan seseorang karena kita menyadari yang ganteng,yang cantik, yang istimewa belum tentu yang terbaikbuat kita.

* Kita harus melepaskan seseorang karena kita tahu jika Tuhan mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.

* Kita harus melepaskan seseorang ketika saat-saat indah hanyalah tinggal masa lalu.

* Kita harus melepaskan seseorang karena kepala kitaberkata "tidak ada lagi yang dapat dipertahankan".

* Kegagalan tidak berarti Anda tidak mencapai apa-apa...namun Anda telah memahami sesuatu...!Segala sesuatu ada waktunya, ada saat mempertahankan, ada saatmelepaskan...!!



dari milis motivasi

Kamis, 05 Januari 2012

Penantian Sang Ayah


Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan, orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan tapi ada saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang bukan karena orang itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kitamelepaskannya.

* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kebahagiaan kita sangat bergantung pada orang itu.

* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketikakita merasa dia itu ganteng, cantik, teristimewa dibandingkan dgn yang lain.

* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kita takut tidak dapat menemukan yang seperti dia.

* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika begitu banyak saat-saat indah senantiasa terbayang di benak kita.

* Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika hati kita berkata "Saya sangat mencintainya".

Ingatlah !! Melepaskan bukanlah akhir dari dunia melainkan awal dari suatu kehidupan baru...

* Kita harus melepaskan seseorang karena kebahagiaan kita tidak tergantung padanya.

* Kita harus melepaskan seseorang karena kita menyadari yang ganteng,yang cantik, yang istimewa belum tentu yang terbaikbuat kita.

* Kita harus melepaskan seseorang karena kita tahu jika Tuhan mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.

* Kita harus melepaskan seseorang ketika saat-saat indah hanyalah tinggal masa lalu.

* Kita harus melepaskan seseorang karena kepala kitaberkata "tidak ada lagi yang dapat dipertahankan".

* Kegagalan tidak berarti Anda tidak mencapai apa-apa...namun Anda telah memahami sesuatu...!Segala sesuatu ada waktunya, ada saat mempertahankan, ada saatmelepaskan...!!



dari milis motivasi

Penantian Panjang


Demi kekasihnya yang sekarat, seorang wanita rela menjadi seekor kupu-kupu untuk menyelamatkan jiwanya. Penantiannya yang panjang justru membalikkan kisah cinta mereka menjadi kesedihan. Di sebuah kota kecil yang tenang dan indah, ada sepasang pria dan wanita yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja. Setiap orang yang bertemu dengan mereka tidak bisa tidak akan menghantar dengan pandangan kagum dan doa bahagia. Mereka saling mengasihi satu sama lain. Namun pada suatu hari, malang.. sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah kecelakaan. Ia berbaring di atas ranjang pasien.. beberapa malam tidak sadarkan diri di rumah sakit. Siang hari sang wanita menjaga di depan ranjang dan dengan tiada henti memanggil-manggil kekasih yang tidak sadar sedikitpun. Malamnya ia ke gereja kecil di kota tersebut dan tak lupa berdoa kepada Tuhan agar kekasihnya selamat. Air matanya sendiri hampir kering karena menangis sepanjang hari. Seminggu telah berlalu, sang lelaki tetap pingsan tertidur seperti dulu, sedangkan si wanita telah berubah menjadi pucat pasi dan lesu tidak terkira, namun ia tetap dengan susah payah bertahan dan akhirnya pada suatu hari Tuhan terharu oleh keadaan wanita yang setia dan teguh itu, lalu IA memutuskan memberikan kepada wanita itu sebuah pengecualian kepada dirinya.
 Tuhan bertanya kepadanya: "Apakah kamu benar-benar bersedia menggunakan nyawamu sendiri untuk menukarnya?". Si wanita tanpa ragu sedikitpun menjawab: "Ya". Tuhan berkata: "Baiklah, Aku bisa segera membuat kekasihmu sembuh kembali, namun kamu harus berjanji menjelma menjadi kupu-kupu selama 3 tahun. Pertukaran seperti ini apakah kamu juga bersedia?". Si wanita terharu setelah mendengarnya dan dengan jawaban yang pastimenjawab: "saya bersedia!". Hari telah terang. Si wanita telah menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Ia mohon diri pada Tuhan lalu segera kembali ke rumah sakit. Hasilnya, lelaki itu benar-benar telah siuman bahkan ia sedang berbicara dengan seorang dokter. Namun sayang, ia tidak dapat mendengarnya sebab ia tak bisa masuk ke ruang itu. Dengan di sekati oleh kaca, ia hanya bisa memandang dari jauh kekasihnya sendiri. Beberapa hari kemudian, sang lelaki telah sembuh. Namun ia sama sekali tidak bahagia. Ia mencari keberadaan sang wanita pada setiap orang yang lewat, namun tidak ada yang tahu sebenarnya sang wanita telah pergi kemana.Sang lelaki sepanjang hari tidak makan dan istirahat, terus mencari. Ia begitu rindu kepadanya, begitu inginnya bertemu dengan sang kekasih, namun sang wanita yang telah berubah menjadi kupu-kupu bukankah setiap saat selalu berputar di sampingnya? hanya saja ia tidak bisa berteriak, tidak bisa memeluk. Ia hanya bisa memandangnya secara diam-diam.
Musim panas telah berakhir, angin musim gugur yang sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Kupu-kupu mau tidak mau harus meninggalkan tempat tersebut lalu terakhir kali ia terbang & hinggap di atas bahu sang lelaki. Ia bermaksud menggunakan sayapnya yang kecil halus membelai wajahnya, menggunakan mulutnya yang kecil lembut mencium keningnya. Namun tubuhnya yang kecil dan lemah benar-benar tidak boleh di ketahui olehnya, sebuah gelombang suara tangisan yang sedih hanya dapat di dengar oleh kupu-kupu itu sendiri & mau tidak mau dengan berat hati ia meninggalkan kekasihnya, terbang ke arah yang jauh dengan membawa harapan.Dalam sekejap telah tiba musim semi yang kedua, sang kupu-kupu dengan tidak sabarnya segera terbang kembali mencari kekasihnya yang lama di tinggalkannya. Namun di samping bayangan yang tak asing lagi ternyata telah berdiri seorang wanita cantik. Dalam sekilas itu sang kupu-kupu nyaris jatuh dari angkasa. Ia benar-benar tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya sendiri. Lebih tidak percaya lagi dengan omongan yang di bicarakan banyak orang. Orang-orang selalu menceritakan ketika hari natal, betapa parah sakit sang lelaki. Melukiskan betapa baik dan manisnya dokter wanita itu. Bahkan melukiskan betapa sudah sewajarnya percintaan mereka dan tentu saja juga melukiskan bahwa sang lelaki sudah bahagia seperti dulu kala dsb. Sang kupu-kupu sangat sedih. Beberapa hari berikutnya ia seringkali melihat kekasihnya sendiri membawa wanita itu ke gunung memandang matahari terbit, menghantar matahari senja di pesisir pantai. Segala yg pernah di milikinya dahulu dalam sekejap tokoh utamanya telah berganti seorang wanita lain sedangkan ia sendiri selain kadangkala bisa hinggap di atas bahunya, namun tidak dapat berbuat apa-apa.

Musim panas tahun ini sangat panjang, sang kupu-kupu setiap hari terbang rendah dengan tersiksa dan ia sudah tidak memiliki keberanian lagi utk mendekati kekasihnya sendiri. Bisikan suara antara ia dengan wanita itu, ia dan suara tawa bahagianya sudah cukup membuat embusan napas dirinya berakhir, karenanya sebelum musim panas berakhir, sang kupu-kupu telah terbang berlalu. Bunga bersemi dan layu. Bunga layu dan bersemi lagi. Bagi seekor kupu-kupu waktu seolah-olah hanya menandakan semua ini. Musim panas pada tahun ketiga, sang kupu-kupu sudah tidak sering lagi pergi mengunjungi kekasihnya sendiri. Sang lelaki bekas kekasihnya itu mendekap perlahan bahu si wanita, mencium lembut wajah wanitanya sendiri. Sama sekali tidak punya waktu memperhatikan seekor kupu-kupu yang hancur hatinya apalagi mengingat masa lalu. Tiga tahun perjanjian Tuhan dengan sang kupu-kupu sudah akan segera berakhir dan pada saat hari yang terakhir, kekasih si kupu-kupu melaksanakan pernikahan dengan wanita itu. Dalam gereja kecil telah di penuhi orang-orang. Sang kupu-kupu secara diam-diam masuk ke dalam dan hinggap perlahan di atas pundak Tuhan. Ia mendengarkan sang kekasih yang berada di bawah berikrar di hadapan Tuhan dgn mengatakan: "saya bersedia menikah dengannya!". Ia memandangi sang kekasih memakaikan cincin ke tangan wanita itu, kemudian memandangi mereka berciuman dengan mesranya lalu mengalirlah air mata sedih sang kupu-kupu. Dengan pedih hati, Tuhan menarik napas: "Apakah kamu menyesal?". Sang kupu-kupu mengeringkan air matanya: "Tidak". Tuhan lalu berkata di sertai seberkas kegembiraan: "Besok kamu sudah dapat kembali menjadi dirimu sendiri". Sang kupu-kupu menggeleng-gelengkan kepalanya: "Biarkanlah aku mjd kupu2 seumur hidup".

ADA BEBERAPA KEHILANGAN MERUPAKAN TAKDIR. ADA BEBERAPA PERTEMUAN ADALAH YANG TIDAK AKAN BERAKHIR SELAMANYA. MENCINTAI SESEORANG TIDAK MESTI HARUS MEMILIKI, NAMUN MEMILIKI SESEORANG MAKA HARUS BAIK-BAIK MENCINTAINYA.
 

Selasa, 03 Januari 2012

Tak Pernah Tidur

Malam telah larut saat saya meninggalkan kantor. Telah lewat pukul 11 malam. Pekerjaan yang menumpuk, membuat saya harus pulang selarut ini. Ah, hari yang menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berjalan, warna langit tampak memerah. Rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah, badan yang lelah ditambah dengan "acara" kehujanan. Setengah berlari saya mencari tempat berlindung. Untunglah, penjual nasi goreng yang mangkal di pojok jalan, mempunyai tenda sederhana Lumayan, pikir saya. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian ditemani rokok dan lampu petromak yang masih menyala. Dia menyilahkan saya duduk. "Disini saja dik, daripada kehujanan...," begitu katanya saat saya meminta ijin berteduh. Benar saja, hujan mulai deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang pekat. Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya, saya berkata, "tolong bikin mie goreng pak, di makan disini saja.

Sang Bapak tersenyum, dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia tampak sibuk. Bumbu dan penggorengan pun telah siap untuk di racik. Tampaklah pertunjukkan sebuah pengalaman yang tak dapat diraih dalam waktu sebentar. Tangannya cekatan sekali meraih botol kecap dan segenap bumbu. Segera saja, mie goreng yang mengepul telah terhidang. Keadaan yang semula canggung mulai hilang. Basa-basi saya bertanya, "Wah hujannya tambah deras nih,orang-orang makin jarang yang keluar ya Pak?" Bapak itu menoleh kearah saya, dan berkata, "Iya dik, jadi sepi nih dagangan saya.." katanya sambil menghisap rokok dalam-dalam. "Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli ya Pak?" kata saya, "Wah, rezekinya jadi berkurang dong ya?" Duh. Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja tak banyak yang membeli kalau hujan begini. Tentu, pertanyaan itu hanya akan membuat Bapak itu tambah sedih. Namun, agaknya saya keliru...

Tuhan itu tidak pernah istirahat, begitu katanya. "Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Istri sama anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun nggak lebar, tapi lumayan lah tanahnya." Bapak itu melanjutkan, "Anak saya yang disini pasti bisa ngojek payung kalau besok masih hujan.....". Degh. Dduh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, "Gusti Allah ora sare". Allah Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya. Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya, tampak tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. Makna nya terlampau dalam, membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan.

Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi banyak hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa materi,dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya cuma harus bersabar. Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung, atau mendorong mobil yang mogok. Hmm...saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie goreng itu. Beribu pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak di benak saya."Ya Allah, Engkau Memang Tak Pernah Beristirahat" Untunglah,hujan telah reda, dan sayapun telah selesai makan. Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang teringat, Gusti Allah Ora Sare.....Gusti Allah Ora Sare....

Cinta Laki-laki biasa

MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari- hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak- kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. "Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya. "Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!" Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. "Tapi kenapa?" Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa. Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Mereka akhirnya menikah. Setahun pernikahan. Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik- bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.
Nania mengandung yang ketiga. Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya. Harus segera dikeluarkan! Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, Nania tak enunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. pembukaan berjalan lambat sekali. Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya. Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal. Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya. Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta. Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang ber keringat. Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik. "Baik banget suaminya!" "Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!" "Nania beruntung!" Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Diambil dari milis motivasi

KOPI ASIN


Seorang pria bertemu dengan seorang gadis di sebuah pesta, si gadis tampil luar biasa cantiknya, banyak lelaki yang mencoba mengejar si gadis. Si pria sebetulnya tampil biasa saja dan tak ada yang begitu memperhatikan dia, tapipada saat pesta selesai dia memberanikan diri mengajak si gadis untuksekedar mencari minuman hangat. Si gadis agak terkejut, tapi karenakesopanan si pria itu, si gadis mengiyakan ajakannya.

Dan mereka berdua akhirnya duduk di sebuah coffee shop, tapi si pria sangatgugup untuk berkata apa-apa dan si gadis mulai merasa tidak nyaman danberkata, "Kita pulang aja yuk...?".Namun tiba-tiba si pria meminta sesuatu pada sang pramusaji, "Bisa minta garam buat kopi saya?"

Semua orang yang mendengar memandang dengan ke arah si pria, aneh sekali!Wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia memasukkan garam tersebut kedalam kopinya dan meminumnya.Si gadis dengan penasaran bertanya, "Kenapa kamu bisa punya hobi sepertiini?"Si pria menjawab, "Ketika saya kecil, saya tinggal di daerah pantai dekat laut, saya suka bermain di laut, saya dapat merasakan rasanya laut, asin dansedikit menggigit, sama seperti kopi asin ini. Dan setiap saya minum kopiasin, saya selalu ingat masa kanak-kanak saya, ingat kampung halaman, sayasangat rindu kampung halaman saya, saya kangen orang tua saya yang masihtinggal di sana."Begitu berkata kalimat terakhir, mata si pria mulai berkaca-kaca, dan sigadis sangat tersentuh akan perasaan tulus dari ucapan pria di hadapannya itu. Si gadis berpikir bila seorang pria dapat bercerita bahwa ia rindu kampung halamannya, pasti pria itu mencintai rumahnya, perduli akan rumahnya dan mempunyai tanggung jawab terhadap rumahnya.

Kemudian si gadis juga mulai berbicara, bercerita juga tentang kampung halamannya nun jauh di sana , masa kecilnya, dan keluarganya.Suasana kaku langsung berubah menjadi sebuah perbincangan yang hangat juga akhirnya menjadi sebuah awal yang indah dalam cerita mereka berdua.Mereka akhirnya berpacaran.

Si gadis akhirnya menemukan bahwa si pria itu adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala permintaannya, dia sangat perhatian, berhati baik, hangat, sangat perduli ...betul-betul seseorang yang sangat baik tapi si gadis hampir saja kehilanganseorang lelaki seperti itu!Untung ada kopi asin!Kemudian cerita berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta yang indah,sang putri menikah dengan sang pangeran dan mereka hidup bahagia selamanya, dan setiap saat sang putri membuat kopi untuk sang pangeran, ia Membubuhkan garam di dalamnya, karena ia tahu bahwa itulah yang disukai oleh pangerannya.

Setelah 40 tahun, si pria meninggal dunia, dan meninggalkan sebuah suratyang berkata, "Sayangku yang tercinta, mohon maafkan saya, maafkan kalau seumur hidupku adalah dusta belaka. Hanya sebuah kebohongan yang aku katakan padamu ... tentang kopi asin."Ingat sewaktu kita pertama kali jalan bersama? Saya sangat gugup waktu itu,sebenarnya saya ingin minta gula tapi malah berkata garam. Sulit sekali bagi saya untuk merubahnya karena kamu pasti akan tambah merasa tidak nyaman,jadi saya maju terus. Saya tak pernah terpikir bahwa hal itu ternyata menjadi awal komunikasi kita! Saya mencoba untuk berkata sejujurnya selamaini, tapi saya terlalu takut melakukannya, karena saya telah berjanji untuktidak membohongimu untuk suatu apa pun.

Sekarang saya sekarat, saya tidak takut apa-apa lagi jadi saya katakanpadamu yang sejujurnya, saya tidak suka kopi asin, betul-betul aneh danrasanya tidak enak. Tapi saya selalu dapat kopi asin seumur hidupku sejakbertemu denganmu, dan saya tidak pernah sekalipun menyesal untuk segalasesuatu yang saya lakukan untukmu. Memilikimu adalah kebahagiaan terbesardalam seluruh hidupku. Bila saya dapat hidup untuk kedua kalinya, saya tetapingin bertemu kamu lagi dan memilikimu seumur hidupku, meskipun saya harusmeminum kopi asin itu lagi.Air mata si gadis betul-betul membuat surat itu menjadi basah. Kemudian haribila ada seseorang yang bertanya padanya, apa rasanya minum kopi pakai garam?Si gadis pasti menjawab, "Rasanya manis."

Kadang anda merasa anda mengenal seseorang lebih baik dari orang lain, tapi hanya untuk menyadari bahwa pendapat anda tentang seseorang itu bukanseperti yang anda gambarkan. Sama seperti kejadian kopi asin tadi.Tambahkan Cinta dan Kurangi Benci karena terkadang garam terasa lebih manis daripada gula.

Dari milis motivasi