Sabtu, 10 Maret 2012

Si Kikir Dan Malaikat Maut



Setelah bekerja keras, berdagang dan menjadi rentenir, si kikir telahmenumpuk harta, tiga ratus ribu dinar. Ia memiliki tanah luas, beberapagedung, dan segala macam harta benda. Kemudian ia memutuskan untukberistirahat selama satu tahun, hidup nyaman, dan kemudian menentukantentang masa depannya.

Tetapi, segera setelah ia berhenti mengumpulkan uang, Malaikat Maut munculdi hadapannya untuk mencabut nyawanya. Si kikir pun berusaha dengan segaladaya upaya agar Malaikat Maut itu tidak jadi menjalankan tugasnya. Si kikirberkata, "Bantulah aku, barang tiga hari saja. Maka aku akan memberimusepertiga hartaku."Malaikat Maut menolak, dan mulai menarik nyawa si kikir. Kemudian si kikirmemohon lagi, "Jika engkau membolehkan aku tinggal dua hari saja, akankuberi engkau dua ratus ribu dinar dari gudangku.

"Tetapi Malaikat Maut pantang menyerah dan tak mau mendengarkannya. Bahkan iamenolak memberi tambahan satu hari demi tiga ratus ribu dinar dari si Kikir.Akhirnya si kikir menulis berkata, "Kalau begitu, tolong beri aku waktuuntuk menulis sebentar."Kali ini Malaikat Maut mengijinkannya, dan si kikir menulis dengan darahnyasendiri: "Wahai manusia, manfaatkanlah hidupmu. Aku tidak dapat membelinyadengan tiga ratus ribu dinar. Pastikan engkau menyadari nilai dari waktuyang engkau miliki."

Sumber: The Way Of Sufi

DARI MILIST MOTIVASI

Tangan Ibuku


Beberapa tahun yang lalu, ketika ibu saya berkunjung, ia mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuah gaun yang baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain, dan saya bukanlah orang yang sabar, tetapi walaupun demikian kami berangkat jugak e pusat perbelanjaan tersebut. Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya.
Seiring hari yangberlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulai frustasi. Akhirnya,pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba satu stelgaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, dan karena ketidak sabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam ruangganti pakaian, saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut,dan dengan susah mencoba untuk mengikat talinya. Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendidan sebab itu dia tidak dapat melakukannya. Seketika ketidak sabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata saya yang mengalir keluar tanpa saya sadari. Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, sayakembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun tersebut. Pakaian ini begitu indah, dan dia membelinya.
Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya. Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian tersebut dan terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengikat tali blusnya. Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebihdari semuanya, berdoa untuk saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hatis aya dengan cara yang paling membekas dalam hati saya.
Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya dan, yang membuatnya terkejut, memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata saya yang baru betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri.
Bev Hulsizer : Dunia ini memiliki banyak keajaiban, Segala ciptaan Tuhan yang begitu agung; Tetapi tak satu pun yang dapat menandingi Keindahan tangan ibu
dari milis motivasi

Ibuku, Inspirasiku


Waktu masih kanak-kanak, ibu pernah memintaku untuk mengangkut sekarung beras dari sebuah pabrik menuju ke rumah di kampung yang berbeda. Namun karena tenagaku yang tidak kuat, aku terjatuh di sebuah jembatan. Akibatnya karung beras itu jatuh di bantaran kali kecil itu. Sesampai di rumah ibuku mendengarkan semua alasanku. Aku khawatir ia akan marah. Namun, ternyata ia hanya berkata: "Oh jembatan kayunya kecil ya..." Padahal kejadian ini adalah untuk ketiga kalinya.

Sekali waktu ibu pernah memarahiku karena aku tak mau membantunya menimba air. Aku sedang malas dan barulah pertama kali itu aku tidak melakukannya. Di depan pintu dapur, ia hanya mengucapkan: "Nanti kalau besar mau jadi apa, kalau malas...". Aku pun pernah marah kepadanya. Karena ia telah memakan kue pisang kesukaanku yang diberi oleh tetangga. Dengan peluhnya sehabis membuat sapu lidi, ia langsung mengambil kue itu dan berkata: "Kamu gak mau kan...". Ibu tak memperhatikan jawabanku selain langsung memakannya, padahal aku sangat ingin.

Lain waktu setelah pulang dari sekolah, perutku lapar. Namun, aku tak menemukan nasi di meja makan dekat tungku api. Aku menemuinya, berharap ia menyimpan makanan itu di suatu tempat yang tak kuketahui. Tapi tebakanku salah. Dengan ringannya ia berkata: "Kamu panjat kelapa dan mencabut singkong di belakang rumah, lalu ibu yang memasaknya. Setelah itu kita makan bareng ya...".

Ibuku memang tak pernah marah ketika aku melakukan kesalahan, asalkan aku memberikan alasan yang bisa dimakluminya. Ia memberikan kesempatan dan waktu terus menerus untukku menyempurnakannya. Ia juga sangat menyukaiku bila aku mau disiplin dan tidak malas dalam melakukan sesuatu. Sedangkan, dulu yang kuanggap kesalahan ibu, justru ia mendidikku untuk belajar berempati dan menghargai jerih payah orang lain.

Sewaktu kami kekurangan bahan makanan, ia mengajakku bekerja sama menjemput rezeki yang halal dan baik.Aku terbiasa dengan perlakuan ibu kala itu. Kadang merasa nyaman, kadang was-was khawatir ibu akan marah. Walaupun aku menemui sikapnya berbeda jauh dari sangkaanku. Namun sungguh, di kala kami anak-anaknya menjalani kemiskinan justru ibu memperkaya diri kami dengan makna hidup yang sebenarnya. Memberikan asupan, semangat, dan cara mensiasati hidup dengan keridhoan terhadap apa yang didapatkan dan dijalani.

Ibuku lulusan sekolah rakyat dan tak mengenyam pendidikan tinggi. Ia adalah wanita yang dicintai dan disegani anak-anaknya. Satu hal saja yang menempatkan ibu pada posisi sangat dihargai oleh anak-anaknya.Yaitu soal calon pendamping hidup. Tak satu pun pasangan hidup anaknya, baik laki atau perempuan yang tak melalui "tes ujian menantu". Satu hal saja, yang akan selalu ia tanyakan, "Apakah kamu sanggup dalam kemiskinan dan kekurangan anakku?".

Saat ini aku telah menikah dan dianugerahi seorang anak yang memasuki tahun pertama usianya, ia telah dapat meniru banyak hal. Aku dan istriku mengajarinya beberapa hal, seperti berterima kasih, berdoa di setiap kesempatan, tanda hormat dengan mencium tangan, rela melepas dan memberikan mainannya. Bila ia menangis, aku ajarkan untuk menyadari sendiri tingkahnya. Sampai akhirnya ia terdiam dan bermain kembali tanpa campur tangan ibunya untuk menghentikan tangisnya. Ternyata, ia mau melakukannya walau membutuhkan waktu.

Namun dari semua itu, aku belajar dan terkayakan ilmu dari seorang wanita. Dialah Ibuku, yang menitipkan banyak nasihat dalam perjalanan hidupku, melekat, mendalam, dan penuh makna dengan ketulusannya. Aku bersyukur, Allah telah memberikan wanita hebat itu. Semua itu melahirkan sebuah inspirasi besar bagaimana mendidik anakku. Ibuku, inspirasiku.

Aku akan berusaha melahirkan banyak hal untuk anak-anakku. Agar kelak mereka mendapatkan inspirasi luar biasa dan lebih baik setelahku. Walaupun aku tahu, ada sisi kekurangan dan keterbatasan ibu yang terbungkus dalam kesederhanaannya dalam hidup. Tentunya, setiap anak pasti akan menemukan kekuatan inspirasi itu dari seorang ibu bagaimana pun keadaannya. Wallahu'alam.

Oleh: Mahyudin Purwanto
Dari Milis Motivasi

Jumat, 02 Maret 2012

Hutang Anak terhadap Ibunya

Seorang anak kecil menghampiri ibunya di dapur pada suatu malam sementara ibunya sedang menyiapkan makan malam. Lalu anak itu menyerahkan selembar kertas yang ia telah tulis. Setelah Ibu mengeringkan tangannya pada serbet, ia membacanya, dan inilah isi kertas tersebut: Biaya saya membantu ibu potong rumput: Rp. 5000 Biaya saya membersihkan kamar saya sendiri: Rp 3000 Biaya pergi ke pasar : Rp 1000 Menjaga adik selama ibu pergi: Rp. 5000 Membuang sampah: Rp. 2000 Jumlah ibu berhutang sama saya adalah: Rp 11000 Nah, ibunya memandang anak itu sejenak dan sang ibu mengambil pena, membalikkan kertasnya lalu dia menulis, dan ini adalah apa yang ibu telah lakukan: Untuk sembilan bulan ketika Mama mengandung kamu selama kamu tumbuh dalam dirik ibu: Gratis Untuk mengobati kamu dan mendoakan kamu saat kamu sakit: Gratis Untuk semua saat susah, dan semua air mata yang kamu sebabkan selama ini: Gratis Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan untuk rasa cemas di waktu yang akan datang: Gratis Untuk mainan, makanan, pakaian, untuk kamu: Gratis Biaya cinta saya untuk kamu adalah: Gratis. Ketika anak itu selesai membaca apa yang telah ditulis ibunya, air mata jatuh dari matanya, dan dia menatap langsung pada ibunya lalu berkata, “Bu, Maafkan aku, aku sangat sayang ibu.” Dan kemudian ia mengambil pena dan dalam huruf besar besar ia menulis: “SEMUA HUTANG SUDAH DIBAYAR LUNAS! “.